Sabtu, 13 April 2013
Pandanglah Hinaan dengan Cinta
Minggu, 27 Maret 2011
Tersenyumlah
Seluas senyum pemberi kabar gembira, pada hati-hati yang merintih kesakitan. Dalam lorong-lorong sempit pertikaian antara harapan dan kenyataan. Mencari secerca harapan di lubang-lubang rumah bilik yang kumuh. Sedari menyandarkan lusuhnya pencari kabar gembira, merebahkan kelelahan yang kiat menguat.
Senyum adalah tanda seorang mukmin. Senyum adalah sedekah yang mudah namun begitu nikmat. Mengurai makna betapa jiwa-jiwa pemilik senyum selalu setegar matahari yang tak pernah memikirkan bagaimana caranya penduduk bumi agar berterima kasih padanya. Selalu ikhlas, selalu indah dalam makna yang tak mampu tersampaikan. Tersenyum laksana perekat luka, obat kesedihan yang sangat manjur. Seseorang yang tersenyum dalam menghadapi problema hidup, ia akan mampu mengimbangi kesedihannya dengan memunculkan solusi-solusi terbaik. Maka tersenyumlah saat langit mulai buram, saat dunia mulai penuh dengan tangisan.
”Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu banyak : tasbih, tahmid, takbir, tahlil (dzikir), amar ma’ruf nahyi munkar, menyingkirkan penghalang (duri, batu) dari jalan, menolong orang, sampai senyum kepada saudara pun adalah sedekah.”
Inilah esensi dari senyum yang di awali sejak membuka mata, di awali dari sebuah keikhlasan, sehingga berbuah pahala yang melimpah. Bahkan dengan senyum jiwa akan selalu segar, penyakit akan menyingkir. Sungguh berapa banyak orang-orang yang merasa bahagia saat kita tersenyum dihadapannya. Bersedekahlah dengan indah.
Senyuman merupakan sihir yang sangat manjur, mampu memukai setiap jiwa. Senyuman bila menyapa kekeringan maka akan mengalirkan air kesejukan. Apabila menyapa menghinggapi permusuhan maka akan melahirkan perdamaian.
Mari kita berkaca pada suri taulada kita Rasulullah Saw, bagaimana beliau selalu memancarkan senyum disetiap pergaulannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Al-Husein Radliyallahu’anhu, cucu Rasulullah SAW menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata, ”Aku bertanya kepada Ayahku tentang adab dan etika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau. Ayahku menuturkan, ‘Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa tersenyum, berbudi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja mengharapkan pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas…..” (Riwayat At-Tirmidzi)
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam juga merupakan seorang suami yang penuh canda dan senyum dalam kehidupan rumah tangganya.
Aisyah Radliyallahu’anha mengungkapkan, ”Adalah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam ketika bersama istri-istrinya merupakan seorang suami yang paling luwes dan semulia-mulia manusia yang dipenuhi dengan gelak tawa dan senyum simpul.” (Hadits Riwayat Ibnu Asakir)
Aisyah Radliyallahu’anha bercerita, yang artinya, “Tidak pernah saya melihat Raulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan batas kerongkongannya. Akan tetapi tertawa beliau adalah dengan tersenyum.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari)
Rasulullah pun tersenyum selalu, mengapa kita tidak?
Tersenyumlah. Ia dapat menghilangkan sakit pada hati, ia dapat meneguhkan silaturahim, ia dapat mencairkan suasana yang beku, ia dapat memberikan semangat, ia dapat menjadikan wajah kita berseri-seri, ia dapat membuat hidup jauh lebih berwarna. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dengan senyuman. Jadi, tersenyumlah.. Rasakan apa yang engkau dapatkan dengan senyummu.
Optimis
Masalah merupakan sebuah keniscayaan, tidak ada hidup tanpa melewati sebuah masalah. Masalah adalah sunatullah, bahkan alat untuk menunjukkan sejauh mana diri seorang manusia itu lemah atau kuat. Alangkah miris, jika ada orang yang berkeluh kesah dengan mengatakan Allah azza wajalla tidak adil karena merasa tidak pernah menemukan solusi terhadap masalah yang dihadapi. Allah azza wajalla selalu menguji hambanya dengan masalah sesuai kadar kemampuannya, itu adalah cermin bagi setiap pribadi. Allah azza wajalla pun tidak akan pernah menurunkan masalah tanpa melampaui batas kemampuan hambanya. Keputusasaan adalah tanda kemunduran husnudzon terhadap Allah azza wajalla, dan perlintasan yang melenakan dari jalan fitrah.
Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)
Seorang mukhlis akan senantiasa optimis dalam menghadapi masalah yang pelik dan berubi-tubi yang dihadapi, dan senantiasa melihat ada sebuah hikmah yang terkandung di atas manhaj yang benar.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu.(Q.S Al-Baqarah: 216)
Terkadang apa yang membuat hati kita tidak suka, kita akan menganggap itu adalah sebuah bencana yang mengerikan. Cobaan yang terus menghampiri, kelaparan yang berkepanjangan, pekerjaan yang melelahkan tidak pernah selesai, tugas-tugas yang menguras pikiran kita, semua itu menjadikan hati selalu berperasangka buruk. Abu Darda’ berkata: ada tiga hal yang sangat dibenci oleh orang-orang, namun aku justru menyukainya. Ketiga hal tersebut adalah: Aku suka kefakiran, sakit dan kematian. Mengapa? Karena kefakiran adalah ketenangan hati, sakit adalah pelebur dosa, dan kematian adalah pertemuan dengan Allah azza wajalla.
Di dalam kesempitan yang kita rasakan, selalu tersembunyi jalan keluar. Dalam kesedihan yang dihadapi, ada hal yang menggembirakan dari kesedihan itu sendiri. Dari ujian-ujian yang selalu datang seakan-akan adalah bencana, maka itu akan berubah menjadi sebuah kebaikan iman dan optimisme dari ujian yang dihadapi dengan hati yang ikhlas.
“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami”. (Fathir: 34)
Sudah saatnya melebur tangis dengan bahagia, damaikanlah bola mata dengan optimisme bahwa segala yang kita inginkan akan tetap tercapai selama kita meyakininya. Manusia hanya diperintahkan untuk berusaha mencapai apa yang dicita-citakan, tapi hasilnya semua kembali kepada Allah azza wajalla. Bukan sebuah kelaziman jika kita berkeluh kesah terhadap sebuah kegagalan, tapi jadikanlah kegagalan ada sebuah cermin sebagai guru untuk muhasabah di masa mendatang.
Allah azza wajalla yang menyibakkan subuh, menggerakkan gunung-gunung berjalan, meniupkan angin, menurunkan hujan yang menjadikan tumbuh-tumbuhan subur, Allahlah yang mengatur hidup dan kehidupan.
“Dan, malam ketika telah berlalu, dan shubuh apabila mulai terang” (Q.S Al-Muddatstsir: 33-34)
Malam akan tesibak, simpulkun akan terurai.
Yang takut mendaki gunung akan selamanya hidup dalam kubangan.
